Penampilan Rumah Seni Selaras Sekato Pukau Penonton

Digital Fest di Kawasan Aek Meliuk Sedot Perhatian Pengunjung 

 

Laporan Reporter Suarakalangan

 

Belasan anak-anak menjadi pusat perhatian ratusan orang malam itu di kawasan Aek Meliuk, Kota Muara Bulian, Jumat (30/5/2025).

Gestur tubuh yang gemulai seakan menyaingi semilir angin yang menyapu wajah penonton. Gerak tubuhnya telah menghipnotis ratusan mata yang terpaku menikmati lenggak lenggok tari yang mereka mainkan.

VIDEO: Cuplikan Penampilan Tari dari Rumah Seni Selaras Sekato

Percaya diri terlihat jelas dari anak-anak yang usianya di bawah 10 tahun ini. Mereka menampilkan tari kreasi berbasis tradisi. Sejak awal penampilan mereka mampu mengundang decak kagum penonton, meski hanya aspal yang menjadi panggung tarian mereka.

Bermula dari masuknya penari berkostum tari tradisi melayu, yang berusia tujuh hingga 10 tahun dari dua sisi panggung. Mereka bergerak dinamis mengikuti musik khas daerah Jambi. Tidak tanggung-tanggung, para penari cilik ini membawakan dua tarian nonstop. “Penampilan mereka layak mendapatkan apresiasi. Malam ini adalah momen mereka menunjukkan bakat, sekaligus mengasah pengalaman tampil di depan umum,” ungkap Gus Wafa, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Batang Hari.

BACA JUGA  Desain dari Kementan, Usulan dari Daerah: Proyek Cetak Sawah Batang Hari Tetap Disorot

Ia pun mengapresiasi Pemkab Batanghari Hari yang telah memberikan ruang kepada para pelaku seni, yang sedang memperjuangkan regenerasi pelaku seni. “Ruang ruang seperti ini harus sering diadakan, dan kami sangat mengapresiasi Pemkab Batang Hari, khususnya kepada Bupati Batang Hari dan stake holder terkait, semoga kegiatan di kesempatan berikutnya selalu ada ruang untuk memajukan seni dan budaya di Kabupaten Batang Hari,” ucap Gus Wafa.

Dari pengamatan suarakalangan.com yang menyaksikan pagelaran di rangkaian Digital Fest di kawasan Aek Meliuk itu, antusias penonton yang tak lain adalah warga Muara Bulian dan sekitarnya begitu terasa. Dari awal hingga berakhirnya pertunjukan, penonton tidak berasak dari tempat duduknya, dan tak sedikit pula yang nonton beralaskan aspal jalan.

BACA JUGA  Hitungan Hari Balai Rakyat Menjamur di Batanghari

Namanya anak-anak yang masih butuh perhatian. Di saat pentas pun, rupanya mata beberapa penari cilik itu tertuju pada satu sosok yang berdiri di depannya di antara penonton. Terlihat ibu muda itu, mencoba mengarahkan para penari dengan memainkan jari jemarinya. Sesekali ia terlihat membungkukkan badan sebagai isyarat para penari melakukan gerakan berikutnya. Dia lah pengasuh anak anak pecinta tari tradisi bernama Ulfa, yang memiliki sanggar tari bernama Rumah Seni Selaras Sekato.

Penampilan yang apik. Betapa tidak. Di saat alunan musik pengiring tari masih mengalir, kemudian masuk delapan penari lainnya yang berkostum coklat, dan masing masing membawa serokan rotan. Ada simbol gotong royong dan semangat pantang surut yang tersirat dari tarian yang mereka bawakan. Tanpa disadari, mungkin karena fokus pada penampilan tari ini, ternyata para penari cilik yang menarik perhatian penonton tadi sudah kembali ke belakang panggung.

BACA JUGA  Teriakan Romi Sudirman Menggema di Pasar Kramat Tinggi

Gerakan mereka rampak, meski iringan musik berketukan cepat, namun mereka begitu lincah, dan tentu saja mengundang tepuk riuh penonton.

Dapat dipastikan di akhir pertunjukan terlihat wajah ceria dari penonton, karena benar-benar menikmati pertunjukan tari yang telah dipersembahkan Rumah Seni Selaras Sekato. (eso pamenan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP