“Niat Sedekah, Salah Jalan: Kotak Amal di Batang Hari Diduga Jadi Dana Radikalisme”

Siang itu suasana Simpang Empat Rengas Condong, Muara Bulian, mendadak riuh. Belasan petugas berseragam turun dari mobil, sebagian mengenakan rompi dengan tulisan besar “Satgas Anti Radikalisme”. Mereka masuk satu per satu ke warung, rumah makan, hingga kios kecil di tepi jalan.

Warga yang tengah berbelanja sempat terhenti. Sebagian menduga ada penggerebekan, sebagian lagi hanya berbisik-bisik penasaran. Namun yang diambil petugas bukan barang dagangan, melainkan kotak-kotak amal yang biasanya tergeletak di dekat etalase.

“Awalnya kami takut, bang. Disangka ada masalah besar. Seraso-raso ni macam kami yang salah,” kata seorang pedagang sambil tertawa kecut, masih teringat momen menegangkan ketika petugas mendatangi tokonya.

Di warung kecil lainnya, seorang ibu sempat menyingkirkan dagangan agar petugas leluasa memeriksa. Setelah dijelaskan, barulah para pedagang menghela napas lega. Mereka akhirnya memahami bahwa kotak amal yang selama ini dipercayai, ternyata diduga menjadi sumber pendanaan jaringan radikal.

BACA JUGA  LSM Sembilan Angkat Dugaan Penyimpangan dalam Brosur Perumahan di Kota Jambi

Kotak-kotak itu memang sederhana. Ada yang berlabel “Untuk Anak Yatim”, ada pula yang bertuliskan “Pembangunan Masjid” atau “Donasi Pendidikan”. Namun di balik tulisan dermawan itu, Satgas menduga kuat hasilnya dipakai untuk kepentingan organisasi garis keras, termasuk kelompok NII.

Zamhuri SE, Kabid Ekososbud Agama dan Ormas Kesbangpol Batang Hari, membenarkan penyitaan ini. “Lebih dari seratus kotak amal sudah kita amankan. Nanti akan dirapatkan bersama MUI dan Baznas untuk menentukan kemana uangnya disalurkan. Jumlah pastinya masih dalam penghitungan,” terangnya.

Bagi sebagian warga, kabar ini terasa ironis. Kotak amal yang biasanya menjadi wadah kebaikan, ternyata bisa disalahgunakan menjadi alat penghimpun dana untuk paham radikal. “Sedih juga, bang. Kita kan niatnya mau sedekah. Rupanya salah jalan,” kata seorang pembeli yang ditemui di lokasi razia.

BACA JUGA  Anita Yasmin: Rapat Ini Landasan Awal Penyusunan RAPBD 2025

Satgas memastikan operasi tidak berhenti di pusat kota. Penyisiran akan terus dilakukan hingga ke kelurahan dan desa, demi menutup rapat mata rantai keuangan kelompok radikal di Batang Hari.

Di sela operasi, Ketua Tim Satgas, Supri dari Densus 88, mengingatkan pentingnya menjaga semangat kebangsaan. “Mari kita sambut HUT ke-80 Republik Indonesia dengan mengibarkan bendera Merah Putih di depan rumah masing-masing. Bendera itu simbol persatuan kita,” pesannya.

Hari itu, Muara Bulian belajar satu hal: bahkan dari sebuah kotak kecil di pojok warung, tersimpan cerita besar tentang bagaimana kebaikan bisa dipelintir menjadi jalan yang salah. (Eso Pamenan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP