Pagi hari di tepian Sungai Batang Hari, hamparan padi di Desa Napal Sisik tampak menguning. Angin perlahan menggerakkan batang padi yang siap dipanen—menjadi penanda bahwa kerja panjang para petani selama berbulan-bulan tidak sia-sia.
Empat tahun lalu, kawasan ini belum sepenuhnya menjadi sawah produktif. Kini, 110 hektare lahan telah berubah menjadi sumber penghidupan baru bagi warga. Dengan sistem tanam IP 200, petani Napal Sisik menanam padi dua kali setahun dan menghasilkan rata-rata 6 ton gabah per hektare, dengan 75 persen di antaranya menjadi beras.
Hasilnya bukan hanya soal angka produksi. Dari panen tahun ini, zakat pertanian yang terkumpul mencapai 5 ton gabah—sebuah capaian yang mencerminkan melimpahnya hasil sekaligus kuatnya nilai sosial di tengah masyarakat desa.
Sawah-sawah tersebut dikelola oleh tiga kelompok tani: Lubuk Cabang Tigo, Titian Medang, dan Tanjung Rambe. Lahan itu milik warga sendiri, dibangun secara bertahap dari berbagai sumber—Dana Desa, APBD kabupaten dan provinsi, dukungan kementerian, hingga iuran dan tenaga masyarakat.
Kepala Desa Napal Sisik, Dedi Rosadi, menyebut keberhasilan ini sebagai hasil dari kesabaran dan kebersamaan. Dari potensi lahan sawah yang mencapai lebih dari 400 hektare, baru sebagian yang tergarap. Namun, ia optimistis langkah kecil ini akan terus membesar.
“Ini bukan sekadar menyukseskan program pemerintah. Masyarakat sudah merasakan sendiri manfaat sawah ini,” ujarnya.
Pekan depan tepatnya pada Jumat (19 Desember 2025), warga Napal Sisik berencana menggelar syukuran panen. Tokoh adat, tokoh pemuda, dan masyarakat desa sekitar akan berkumpul di tengah sawah yang menguning—merayakan hasil bumi, sekaligus menanam harapan baru bahwa dari tepian Batang Hari, Napal Sisik tengah menata dirinya sebagai lumbung pangan masa depan. (eso)










