Pagi itu, teras Masjid Al Munawarah Desa Batin menjadi ruang dialog bagi persoalan pelik sengketa lahan. Di tempat yang sama, beberapa jam kemudian, seluruh pihak kembali dalam satu saf saat azan Zuhur berkumandang.
Rapat, perdebatan, dan pengecekan patok di lapangan menguras tenaga dan emosi. Namun ketika waktu salat tiba, semua perbedaan dikesampingkan. Aparat, pemerintah desa, warga, dan ahli waris berdiri sejajar, menghadap kiblat yang sama.
Di tengah konflik agraria yang kerap memecah belah, momen ini menjadi pengingat bahwa ikatan kemanusiaan dan keimanan masih menyatukan mereka. Tidak ada lagi sekat kepentingan, hanya doa agar persoalan diberi jalan keluar terbaik.
Sengketa boleh terjadi, emosi boleh tersulut, namun ketika hati masih terpaut pada nilai yang sama, jalan damai selalu terbuka. Dari patok ke sajadah, Desa Batin memberi pelajaran bahwa solusi sering lahir dari keteduhan. (eso)










