Nisan Kabur Itu Ternyata Makam Ulama di Batanghari

– Kembalikan Tradisi Melayu Islam di Bumi Serentak Bak Regam Kabupaten Batanghari

 

SUAKA.COM, MUARA BULIAN – Beranjak dari kerisauan tokoh adat dan ulama di Kabupaten Batanghari, tentang banyaknya para tuan guru dan alim ulama yang dulu memperjuangkan agama Allah di Bumi Serentak Nak Regam, namun terlupakan oleh masyarakat di Kabupaten Batanghari.

Rasa risau dan gundah ini pada akhirnya menjadi ide atas terlaksananya Haul Jamak perdana, yang berlangsung di ruang kaca Rumah Dinas Bupati Batanghari, Kamis (23/11/2023) malam.

Kepada para da’i, para pimpinan pondok pesantren, dan dihadapan para pejabat serta undangan yang hadir, Ketua Lembaga Adat Kabupaten Batanghari, H Fathuddin Abdi, menyampaikan hal ikhwal terselenggaranya Haul Jamak tersebut. “Pernah pada suatu hari saya sedang berada di satu pemakaman umum di desa. Terlihat ada makam tua yang tulisan di nisannya sudah kabur. Kemudian saya bersihkan, dan ternyata tertulis di batu nisan itu, nama seorang ulama besar di kampung itu pada masanya dulu. Sementara, kita saat ini begitu banyak telah melupakan para ulama, lupa dengan tuan tuan guru yang telah meninggal dunia. Bahkan anak cucu kita ada yang tidak pernah tahu kalau di kampungnya pernah hidup seorang tokoh ulama yang masyhur di zamannya,” ungkap Ning Taud, sapaan akrab Fathuddin Abdi, saat memberikan kata sambutan di acara Haul Jamak tersebut.

BACA JUGA  Membludak...!!! Ribuan Warga Sesaki Alun-alun Batanghari

Ning Taud melanjutkan, karena jasa para tuan guru dan ulama itu lah, maka hingga saat ini di satu kaum, di satu negeri, masyarakatnya memeluk agama Islam. Karena itu, Haul Jamak ini perlu dibudayakan, sebagai ekspresi syukur dan berterima kasih terhadap para tuan guru dan ulama, yang telah menjadi perantara turunnya hidayah Allah pada masyarakat di Kabupaten Batanghari, khususnya.

Perlu diketahui, Haul Jamak adalah tradisi mendoakan arwah para tuan guru dan ulama di suatu daerah. Haul Jamak merupakan tradisi masyarakat Melayu. Sangat disayangkan, tradisi ini sekarang telah ditinggalkan oleh masyarakat Melayu di Jambi, khususnya di Kabupaten Batanghari ini. Biasanya Haul Jamak dilaksanakan menjelang satu bulan memasuki bulan suci Ramadhan.

BACA JUGA  Debat Hak Suara Panaskan Arena Muscab APDESI Batang Hari, Forum Kades Desak Voting

Bupati Batanghari, Mhd Fadhil Arief, menyambut baik dan sangat mendukung terlaksananya Haul Jamak ini. Ia berharap tradisi Haul Jamak bisa kembali menjadi milik masyarakat di tiap desa di Kabupaten Batanghari ini. “Kita di Batanghari ini pada umumnya adalah Islam keturunan. Kita mendapatkan nikmat Islam ini karena orang tua kita, karena datuk – datuk kita. Para pendahulu kita memeluk agama Islam karena perjuangan dakwah para tuan guru dan ulama. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita mendoakan arwahnya, berkirim Alfatihah kepada mereka, sebagai ujud terima kasih kita kepada tuan guru dan ulama,” ungkap Bang Fadhil, sapaan Bupati Batanghari.

Sementara itu, penggagas Haul Jamak yaitu Gus Danil, pimpinan pondok pesantren Darus Syafi’iyah menjelaskan, dengan terlaksananya Haul Jamak ini, sebagai upaya mengembalikan tradisi islami tanah Melayu, dan langkah awal untuk mendata serta menelusuri para tuan guru dan ulama yang pernah ada di Kabupaten Batanghari. “Kami akan melakukan penelusuran dan penelitian tentang para tuan guru dan ulama yang pernah berjuang, berdakwah di Bumi Serentak Bak Regam ini,” ucap Gus Danil.

BACA JUGA  Ketua DPRD Batang Hari, Anita Yasmin Pimpin Rapat Paripurna

Ke depan, kata Gus Danil, Haul Jamak ini akan dilaksanakan di tingkat desa atau kecamatan, sebagai upaya melestarikan Haul Jamak, dan mengingatkan masyarakat tentang jasa para alim ulama yang pernah ada.
(eso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP