Ribuan Jamaah Hadiri Pengajian Akbar Selapanan Jum’at Pon di RT 22 Sridadi

 SUARAKALANGAN.COM, MUARA BULIAN – Tradisi Selapanan dalam masyarakat Jawa merujuk pada siklus waktu 35 hari. Sementara itu, dalam penanggalan Jawa juga dikenal istilah Pasaran, yaitu siklus lima hari yang terdiri dari Pon, Wage, Kliwon, Legi, dan Pahing. Dari tradisi itulah lahir Pengajian Selapanan Jum’at Pon, sebuah pengajian rutin yang digelar bergilir antar-RW di Kelurahan Sridadi, setiap 35 hari sekali, tepatnya pada hari Jum’at Pon.

Pada Jum’at (29/8), giliran RT 22 Sridadi menjadi tuan rumah acara yang dipusatkan di Masjid Nurus Sholaah, Jalan Senami KM 07. Usai shalat Jum’at, jamaah dari berbagai penjuru mulai berdatangan menggunakan beragam moda transportasi. Suasana kemeriahan sudah terasa sejak 500 meter sebelum lokasi, ditandai dengan umbul-umbul yang berkibar di sepanjang jalan, berdampingan dengan panji-panji kebesaran Nahdlatul Ulama (NU).

BACA JUGA  Haji Akel Enggan Lepas Tangan Fadhil

Di halaman masjid, jamaah perempuan dari berbagai kalangan tampak memenuhi area hingga tumpah ruah, sementara jamaah laki-laki menempati ruang dalam masjid dan serambinya.

Hadir di panggung kehormatan antara lain Lurah Sridadi Muhayat, S.P beserta staf, Ketua LPM Sridadi Nahrowi, sejumlah pimpinan pondok pesantren di Sridadi, serta pengasuh pengajian Selapanan, Kyai Nur Shodiq dan Kyai Abdul Halim.

Untuk mendukung kelancaran, puluhan anggota Banser bersama Linmas turut bertugas mengatur lalu lintas, menjaga kendaraan jamaah, serta memastikan keamanan jalannya acara.

Menurut Yulizar, salah seorang panitia, pengajian kali ini merupakan puncak rangkaian acara Selapanan. “Malam tadi (Kamis, 28/8) sudah diawali dengan Gema Shalawat,” jelasnya. Acara shalawatan tersebut dimeriahkan oleh delapan grup hadroh asal Sridadi.

BACA JUGA  Mahasiswa FEB Universitas Jambi Dalami Fungsi DPRD di Batang Hari

Rangkaian kegiatan dimulai dengan pembacaan Ummul Kitab, dilanjutkan Istighosah yang dipimpin oleh Kyai Muhammad Syahri Romadhon, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatut Thulaab sekaligus Ketua Forum Komunikasi Pimpinan Pesantren (FKPP) Kabupaten Batang Hari. Suasana penuh khidmat terasa ketika alunan istighfar, tahmid, tasbih, dan shalawat menggema dari ribuan jamaah.

Puncak acara adalah mau’idhotul hasanah yang disampaikan oleh KH. Nur Rahmat Saifullah, S.Pd., M.Pd.I, pengasuh Pondok Pesantren Nurus Sa’adah Tulang Bawang, Lampung. Dalam ceramahnya, Kyai yang khas berdakwah diiringi perangkat musik dan vokal itu mengupas rahasia memiliki anak sholeh.
“Kalau ibu-ibu ingin punya anak sholeh, maka ibu-ibu harus sabar dan ikhlas menjadi seorang istri,” ujarnya.

BACA JUGA  Sendirian Hadapi RDP DPRD, Simon PT Superhome Tetap Tenang di Tengah Kritik Tajam

Menutup tausiyahnya, Kyai yang dalam sepekan terakhir melakukan safari dakwah di Provinsi Jambi ini mengajak seluruh jamaah mengangkat tangan bersama, bermunajat mengetuk pintu langit, memohon ampunan dan keberkahan hidup. (jng)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP