Bupati, Tolong Lihat Kami: Pasien JKN di RSUD HAMBA Menunggu di Depan Layar yang Mati

MUARA BULIAN, SUARAKALANGAN.COM — Di antara deretan kursi tunggu dan wajah-wajah lelah, tampak para pasien JKN di RSUD Hamba Muara Bulian duduk dengan harapan yang kian menipis. Mereka datang sesuai jadwal yang tertera di aplikasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), namun di lapangan, harapan itu terhenti di depan layar-layar antrean yang mati.

Senin (3/11/2025) siang, pengaduan ini datang dari pengguna JKN berinisial AG dan RHT, yang sejak pagi menunggu giliran di salah satu poli RSUD HAMBA. Mereka mendaftar secara resmi melalui sistem JKN, bahkan sudah menunggu dua minggu agar bisa dilayani sesuai jadwal.

“Semua layar info antrean dak ado yang idup, padahal kato orang bagian pelayanan mestinyo ditampilkan di layar no antrean sesuai JKN dan prioritas (lansia dan kursi roda),” ujar AG dengan nada kecewa.

AG menuturkan, dirinya mendapatkan nomor antrean XXX, dengan estimasi pelayanan pukul 12.20 WIB. Namun saat datang ke rumah sakit sekitar pukul 11.30, pasien dengan nomor antrean 001 dan 002 justru belum dipanggil. Sementara, sejumlah pasien lain yang datang belakangan sudah keluar dari ruang poli.

BACA JUGA  Warga Pompa Air Laporkan Dugaan Perkebunan Sawit Ilegal 408 Hektare ke Bupati Batang Hari dan APH

“Sudah, dokternyo pun sudah datang, tapi yang dipanggil justru orang yang dak ado di antrean. Udah belasan orang keluar masuk,” tambah RHT, yang juga ikut menunggu di ruang yang sama.

 

Ketika ditanya mengapa tidak menegur langsung petugas di dalam poli, para pasien hanya menunduk.

“Dak berani kami bang, perawatnyo judes. Kan dio pelayan publik, kenapo pulak dio judesin pasien. Kito ni bayar iuran BPJS jugo,” kata salah seorang pengantar pasien.

 

AG mengaku sempat mendatangi bagian informasi untuk melaporkan hal ini. Dari sana, ia diarahkan ke bagian pelayanan, yang menjelaskan bahwa nomor antrean sebenarnya ditampilkan di layar setiap poli. Namun saat diperiksa bersama, semua layar ternyata mati. Setelah laporan diteruskan ke atasan, barulah antrean sesuai aplikasi mulai dipanggil.

BACA JUGA  Status DPO Sitanggang CS Bisa Dihapus. Ini Syaratnya 

“Pasien no 1 baru dipanggil setelah kami lapor. Padahal banyak yang udah nunggu dari pagi, ada yang nahan sakit, ada yang pegawai mesti balik kerja. Kasian,” ungkap AG.

Situasi ini menggambarkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar layar mati — ini soal keadilan yang redup di tempat yang seharusnya memberi pelayanan dan ketenangan. Dalam sistem digital yang katanya canggih, pasien masih harus melawan rasa takut, ketidakjelasan, dan mungkin ‘ordal’ yang mengatur antrean di balik layar.

RSUD HAMBA adalah rumah sakit kebanggaan Kabupaten Batanghari. Namun kisah ini menunjukkan bahwa masih ada ruang besar yang harus diperbaiki — bukan hanya di sistem, tapi juga di hati mereka yang melayani.

“Kalau dokternyo ramah, elok pelayanannyo. Tapi kalau perawatnya pilih kasih dan layar info dimatiin, pasien jadi korban,” tutup AR lirih.

BACA JUGA  Turnamen Sepak Bola Piala Bupati Siap Goyang Muara Bulian

Bupati Batanghari mungkin belum tahu bagaimana rasa menunggu di depan layar yang mati — tapi warga kecil di ruang tunggu itu tahu betul bagaimana rasanya diabaikan. (eso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP