Gairah Sastra Batang Hari Menyala: Dua Penulis Ikuti Sayembara Novel DKJ

SUARAKALANGAN.COM, MUARA BULIAN – Di tengah denyut kehidupan yang kian modern, geliat dunia sastra di Kabupaten Batang Hari justru makin menunjukkan napas panjangnya. Seolah tak ingin larut dalam keheningan, para pelaku literasi di daerah ini terus menorehkan jejak melalui karya dan partisipasi aktif di berbagai ajang, dari tingkat lokal hingga nasional.

Salah satu pentas bergengsi yang kini menyita perhatian adalah Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2025—sebuah ajang yang tak hanya menjanjikan hadiah Rp68 juta, namun juga kehormatan sebagai bagian dari peta sastra nasional. Penutupan pengiriman naskah telah berakhir pada 30 Juni lalu, menyisakan harap dan debar di dada para pengirimnya.

Dari penelusuran SUARAKALANGAN.COM, diketahui bahwa dua perempuan penulis asal Batang Hari turut mengirimkan karyanya. Mereka adalah Lastriyanti, yang menggunakan nama pena Edelweis Asysyauqi, dan Neni Sumarni, seorang ustadzah sekaligus pendidik dari Kota Jambi.

BACA JUGA  Pelatih Kesenian Tangguh Harus Ada di Batanghari

“Alhamdulillah, (saya) kirim naskah ke DKJ,” tulis Lastriyanti dalam pesan singkat kepada redaksi, Kamis (03/06).
Ia menuturkan, novel yang dikirimkan bertajuk Tanah Nan Betuah, sebuah kisah cinta yang berpijak pada legenda asal-usul Desa Aro, Muara Bulian—desa tempat ia mengabdi dan menetap. Dengan balutan romansa dan mitos lokal, Lastriyanti menghidupkan sejarah yang nyaris terlupa menjadi narasi yang memikat.

Sementara itu, Neni Sumarni menyuguhkan karya bertajuk Masih Perlukah Kita Bertahan—sebuah refleksi cinta dan perjuangan di tengah era digital. Tokoh sentralnya, Kirana, seorang dosen, harus bertarung dengan cobaan hidup yang datang bertubi-tubi.
“Kekinian,” singkat jawaban Neni saat menjelaskan latar waktu novelnya, Rabu (03/06).

BACA JUGA  Melindungi Guru, Menyelamatkan Sekolah: Arah Baru Pendidikan Pasca Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026

Bagi kedua penulis ini, sayembara bukan semata ajang kompetisi. Ia adalah ruang menjaga ritme, memperpanjang napas kreativitas, dan menjalin kesinambungan dengan dunia kepenulisan yang mereka cintai.

Ketua Dewan Kesenian Batang Hari (DKB), Gus Wafa, turut memberikan apresiasi tulus.
“Atas nama pribadi dan DKB, saya ucapkan selamat dan terima kasih untuk keduanya,” ujar pengasuh Ponpes Darul Muntaha itu.
Gus Wafa mengungkapkan, sejatinya ada empat hingga lima penulis Batang Hari yang sempat menyatakan minat mengikuti sayembara, namun hanya dua naskah yang berhasil dituntaskan hingga tenggat waktu.

“Semoga di tahun-tahun mendatang, lebih banyak lagi penulis Batang Hari yang berani unjuk karya,” pungkas Gus Wafa, yang juga dikenal sebagai pengagum tokoh kiai sastrawan, Gus Mus.

BACA JUGA  Ironis Wajah Pendidikan Menengah Atas Jambi

Dengan langkah kecil namun berarti ini, semangat sastra Batang Hari terus tumbuh, menjelma bara yang kelak bisa menjadi cahaya di kancah nasional.
(JNG)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP