Sejak siang, kawasan Aek Meliuk telah dipenuhi warna. Seragam kader PKK dari delapan kecamatan berbaur, tawa bersahut, dan musik mengalun ringan. Gempita PKK hari itu bukan sekadar agenda tahunan—ia menjelma pertemuan besar para perempuan penggerak keluarga di Kabupaten Batang Hari.
Di hadapan ratusan kader, Bupati Batang Hari M. Fadhil Arief berdiri tenang. Suaranya terdengar jelas, mantap, namun hangat. Ia tak membaca naskah panjang. Nada bicaranya mengalir seperti ajakan seorang kepala keluarga.
“PKK ini bukan organisasi pelengkap,” ucapnya, disambut hening yang penuh perhatian.
“Justru dari tangan ibu-ibu inilah ketahanan keluarga dibangun. Dari rumah, dari dapur, dari cara mendidik anak, dari kepedulian sesama.”
Bupati menyebut, pembangunan daerah tak akan pernah kokoh bila keluarga rapuh. Karena itu, menurutnya, peran kader PKK sering kali lebih sunyi dari sorotan, tetapi paling dekat dengan denyut kehidupan masyarakat.
Di sela sambutannya, sesekali terdengar tepuk tangan. Bukan riuh, tapi tulus.
Ia mengapresiasi para kader yang bekerja tanpa pamrih, menembus batas cuaca, waktu, bahkan keterbatasan.
“Terima kasih ibu-ibu semua,” lanjutnya.
“Batang Hari bisa kuat karena keluarga-keluarga kita dijaga dengan hati.”
Pidato itu menutup sesi resmi. Dengan satu ketukan simbolis, Gempita PKK resmi dibuka.
Langit, yang sejak tadi kelabu, seolah menunggu aba-aba.
Pada sesi ramah tamah, suasana mencair. Bunda Zulva Fadhil, Ketua TP PKK Kabupaten Batang Hari, maju ke depan panggung. Ia menyanyi. Lagu-lagu favoritnya mengalir, diikuti tepuk tangan dan nyanyian bersama.
Lalu gerimis turun.
Awalnya tipis. Nyaris seperti bisikan. Kamera-kamera di video merekam tetes pertama yang jatuh ke panggung, memantul di lampu, membasahi rambut dan bahu para hadirin. Musik masih berjalan.
Namun hujan tak mau sekadar jadi latar.
Gerimis berubah deras. Dari video tampak tim artistik memberi kode—cut off. Alat musik dihentikan. Secara teknis, acara seharusnya selesai.
Tapi justru di sanalah cerita mencapai puncaknya.
Tanpa musik, Bunda Zulva tetap bernyanyi. Suaranya menyatu dengan suara hujan yang kini jatuh ramai. Bupati Fadhil Arief berdiri di sampingnya. Tak ada payung. Tak ada jarak.
Alih-alih meninggalkan lokasi, para kader justru berhamburan ke depan panggung. Mereka turun, bergoyang, tertawa, bernyanyi seadanya—riang di bawah hujan. Kamera menangkap momen langka itu: wajah-wajah dewasa yang kembali seperti anak-anak, bebas, basah, bahagia.
Sejak kapan terakhir kali orang-orang dewasa menari di bawah hujan?
Hujan semakin lebat. Tanah becek. Pakaian basah. Tapi tak satu pun wajah tampak keberatan. Justru di situlah Gempita PKK menemukan maknanya—kebersamaan tanpa sekat, tanpa protokol, tanpa panggung.
Ketika hujan benar-benar tak bisa ditawar, Bupati dan istri akhirnya melangkah pergi. Bukan dengan kendaraan. Mereka berjalan kaki, menyusuri jalanan basah menuju rumah dinas yang jaraknya sekitar seratus meter.
Dalam video, tampak keduanya melambaikan tangan. Beberapa kader ikut mengiringi—bukan sebagai pengawal, melainkan sebagai bagian dari cerita.
Romantis?
Ya.
Tapi lebih dari itu: manusiawi.
Gempita PKK hari itu tak dikenang karena tenda atau panggung megah. Ia akan diingat karena pidato yang jujur, hujan yang turun tanpa rencana, dan kebahagiaan yang lahir begitu saja.
Satu sore di Batang Hari, ketika hujan turun, dan semua orang memilih tetap tinggal. (eso pamenan)






