Daerah  

Rindu Bupati Tak Tertahankan: Mahasiswa dan Perangkat Desa ‘Ngapel’ di Kantor Pemkab, Bawa Oleh-oleh Tuntutan Gaji 6 Bulan

SUARAKALANGAN.COM, MUARA BULIAN — Cinta itu butuh pertemuan. Mungkin itulah yang dirasakan para mahasiswa HMI, IPNU, dan perangkat desa se-Batang Hari. Kamis (24/7/2025) pagi, mereka datang berbondong-bondong ke kantor bupati, bukan untuk piknik atau study tour—tapi untuk menagih janji dan gaji yang entah tersesat di lorong birokrasi selama enam bulan.

Dengan penuh semangat, rombongan mahasiswa dan perangkat desa melakukan “ziarah aspiratif” dari simpang BBC menuju kantor Bupati Batang Hari. Diiringi aparat sebagai pagar betis pengamanan, mereka tidak membawa bunga atau makanan ringan, melainkan daftar panjang keluhan rakyat.

“Kami rindu dengan Abang kami,” seru mereka, menyebut sang Bupati seolah kekasih hati yang mendadak hilang sinyal.

BACA JUGA  Fraksi-Fraksi DPRD Batanghari “Hujani” Catatan Tajam RAPBD-P 2025: Dari Warning Hukum, Kritik Ketimpangan, hingga Desakan Reformasi Anggaran

Di antara rindu dan harapan, terselip tuntutan keras: di mana gaji kami yang sudah enam bulan seperti lagu lama—selalu ditunda, tak kunjung nyata? Guru PAMI, perangkat desa, hingga pegawai syara pun ikut mengangguk kompak. Mereka memang bukan selebritas, tapi butuh juga ‘fans service’ dari pemimpinnya.

Aksi berlangsung damai, penuh estetika dan kesantunan. Duduk bersila di depan gerbang kantor, mahasiswa menggelar orasi dengan nada cinta-campur-amarah. “Kami bukan datang untuk ribut, kami datang karena cinta. Tapi cinta kami butuh balasan, bukan pembiaran.”

Setelah beberapa menit ‘menunggu jawaban dari langit kantor’, akhirnya muncullah Asisten I Setda, M. Rifai, bersama beberapa tokoh pengaman negeri. Layaknya moderator acara lamaran, beliau menyampaikan maaf atas keterlambatan honor dan menyebut semua ini adalah imbas Inpres No 1 Tahun 2025—yang lebih sakral dari surat cinta.

BACA JUGA  Penutupan Batanghari Expo, Fadhil Arief Harapkan Dampak Ekonomi ke Masyarakat

“Percayalah, Pemkab sedang menyusun RPJMD. Doakan saja lancar,” ujar Rifai, seolah menenangkan hati yang bergelora.

Meski belum juga bertemu sang Bupati yang dirindukan, para mahasiswa tak lantas merajuk. Mereka titip salam dan janji, “Kami siap kapanpun dipanggil, asal bukan cuma disuruh jaga lilin.” (eso)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP