MUARA TEMBESI, SUARAKALANGAN.COM – Suasana tegang terjadi di ujung sebuah pangkalan gas LPG 3 kilogram (kg) yang juga memiliki warung di Pal 5, kawasan Pasar PU, Muara Tembesi, Kecamatan Muara Tembesi, Jumat siang kemarin.
Seorang warga melabrak pengelola pangkalan lantaran kehabisan gas saat sedang memasak, namun pangkalan menyebut stok LPG kosong.
Peristiwa tersebut menyita perhatian warga sekitar. Beberapa warga tampak berkumpul di depan pangkalan, menyusul adu argumen antara warga dan pemilik pangkalan. Ketegangan muncul setelah warga melihat adanya tumpukan tabung LPG 3 kg di warung yang berada satu lokasi dengan pangkalan, meski sebelumnya disebutkan stok gas habis.
Warga setempat mengaku sudah lama mengeluhkan kondisi tersebut. Menurut mereka, setiap kali membeli gas, pangkalan kerap menyatakan stok kosong. Namun di waktu lain, warga sering melihat tabung LPG dibawa pergi dalam jumlah banyak menggunakan mobil pribadi.
“Kalau warga datang, selalu dibilang habis. Tapi sering kami lihat gas dibawa pakai mobil,” ujar salah seorang warga.
Warga menduga gas bersubsidi tersebut tidak disalurkan sebagaimana mestinya kepada masyarakat sekitar. Dugaan itu memicu kemarahan warga hingga berujung pelabrakan terhadap pengelola pangkalan.
Menanggapi kejadian tersebut, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Kasat Pol PP) Kabupaten Batanghari, Ridwan Noer, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti informasi yang disampaikan warga.
“Kami akan berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan terkait permasalahan ini,” kata Ridwan Noer saat dikonfirmasi.
Ia menyebut koordinasi tersebut diperlukan untuk memastikan apakah terdapat pelanggaran dalam penyaluran LPG 3 kg, termasuk kepatuhan pangkalan terhadap aturan distribusi dan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
LPG 3 kg merupakan barang bersubsidi yang peruntukannya diatur secara ketat dan ditujukan bagi masyarakat kurang mampu serta pelaku usaha mikro. Pemerintah melarang penyaluran gas bersubsidi di luar mekanisme resmi. (eso)










