Di Balik Lapuk Rumah Nenek Mukinem, Tumbuh Harapan Baru dari Polisi

Kunjungan Dirpol Airud Polda Jambi membawa bantuan dan harapan bagi nenek berusia lebih dari 100 tahun yang hidup dalam kemiskinan.

 

Tak ada yang lebih sunyi dari rumah nenek Mukinem di sudut Desa Suka Ramai itu. Dindingnya rapuh, lantainya dingin, dan penghuninya hanya ditemani sakit yang tak kunjung pergi. Namun pagi itu, kesunyian itu pecah — hadir sosok-sosok berseragam yang datang bukan untuk menegakkan hukum, melainkan untuk merangkul dan menguatkan.

Di sebuah rumah sederhana di RT 06 Desa Suka Ramai, Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari, seorang perempuan renta terbaring lemah.

Namanya Mukinem, usianya sudah lebih dari satu abad, tubuhnya ringkih, dan hidupnya jauh dari sejahtera. Jumat pagi (4/7/2025), halaman rumah yang biasanya sepi itu mendadak ramai oleh langkah-langkah penuh empati.

Direktur Polisi Air dan Udara (Dirpol Airud) Polda Jambi, Kombes Pol A. Tri Waluyo, datang menyambangi nenek Mukinem, didampingi Kapolsek Muara Tembesi Iptu Sugeng dan Kepala Desa Suka Ramai, Salmi. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas dalam rangka Hari Bhayangkara ke-79, tetapi juga wujud nyata kepedulian Polri untuk mereka yang berada di pinggiran, yang sering luput dari perhatian.

BACA JUGA  Kerambah Ikan di Desa Aro Porak-poranda Dihantam Derasnya Arus Batanghari

“Ini sebagai bentuk kepedulian kita terhadap warga. Kami sengaja menjenguk nenek Mukinem, mendoakan beliau agar sehat, dan memberikan sedikit tali asih di momen HUT Bhayangkara ini. Apalagi sekarang juga bulan Muharram, waktu yang baik untuk berbagi,” tutur Kombes Tri Waluyo dengan nada lembut.

Sembako dan sejumlah bantuan diserahkan kepada nenek Mukinem, yang tengah sakit akibat serangan stroke. Namun perhatian polisi tak berhenti di situ. Melihat rumah nenek yang tak lagi layak huni, Kombes Tri berjanji akan mengupayakan program bedah rumah, agar sang nenek dapat menjalani sisa usianya dengan lebih nyaman.

“Kita upayakan nantinya akan dilakukan bedah rumah, supaya layak ditempati,” ujarnya, sambil menatap rumah yang berdinding papan lapuk itu.

BACA JUGA  Ketua Pemenangan Haris - Sani Perjuangkan ROMI-SUDIRMAN

Usai memberikan bantuan, Kombes Tri Waluyo mengajak warga, anak-anak, dan anggota Polri yang hadir untuk duduk bersama di bawah rerimbunan pohon sawit, di pinggir Sungai Batang Tembesi. Di sanalah mereka menyantap hidangan sederhana, berbagi cerita, dan tertawa kecil bersama anak-anak yang duduk berjejer sejajar dengan para polisi.

Di bawah bayang-bayang pohon kelapa sawit, terasa sekali kehangatan yang jarang dijumpai di hari-hari biasa: polisi dan warga duduk setara, berbagi nasi dan doa, di tengah deru angin sungai yang membawa kesejukan.

Kunjungan ini mungkin sederhana. Tetapi bagi nenek Mukinem, dan juga warga Suka Ramai, momen itu menjadi pengingat bahwa mereka tidak sendiri. Ada tangan-tangan yang masih peduli, ada telinga yang mau mendengar, dan ada hati yang mau ikut merasakan derita mereka.

BACA JUGA  Api di Senami Padam, DPO Polisi Menghilang

Sungai Batang Tembesi terus mengalir, membawa kisah tentang kasih dan kepedulian yang mungkin tak selalu terdengar. Nenek Mukinem mungkin tak lagi kuat untuk banyak berkata, tetapi senyum kecilnya adalah ucapan terima kasih yang paling jujur — untuk mereka yang sudah mau melihat, menyapa, dan mendoakan (Eso Pamenan)


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP