Oleh: Eso Pamenan
Di banyak tempat hari ini, resepsi pernikahan kadang terasa seperti pertemuan antara syukur dan hitung-hitungan.
Undangan datang, salaman, makan, menyelipkan amplop, lalu pulang. Kadang, tanpa disadari, terselip pula perasaan kecil yang sulit diucapkan: nanti kalau dia datang ke hajatan kita, balas berapa ya?
Tetapi hari ini, Senin, 1 Juni 2026, di Kampung Kiara, Desa Cikuya, Kecamatan Sukaresmi, Pandeglang, Banten, aku seperti melihat sesuatu yang perlahan menghilang dari banyak tempat: kehangatan yang lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari rasa saling memiliki.
Barangkali, simbol “kemewahan” warga di kampung ini bukan mobil baru, bukan perhiasan, bukan saldo rekening.
Melainkan satu hal sederhana, tersedianya beras di rumah.
Beras hasil sawah sendiri.
Beras yang cukup untuk makan keluarga, dan cukup pula dibagi ketika tetangga atau saudara sekampung punya hajatan.
Memasuki kampung ini, kiri kanan jalan terbentang hamparan sawah yang baru selesai dipanen. Sebagian petak sawah menguning sisa panen, sebagian lain mulai menghijau kembali. Di halaman rumah warga, tampak padi dijemur di atas terpal. Orang-orang hilir mudik membawa gabah menuju penggilingan. Tidak ada suasana terburu-buru. Kampung ini bergerak dalam ritme yang lebih pelan, lebih teduh.
Aku datang mengantar seorang mempelai lelaki dari Jambi yang akan menikahi gadis kampung ini.
Ia datang bersama ayah dan ibu kandungnya.
Jalan jodoh keduanya bukan melalui perjumpaan panjang, bukan pula kisah cinta yang dipenuhi foto bersama atau perjalanan romantis bertahun-tahun. Mereka bertemu lewat sebuah aplikasi media sosial.
Mulanya hanya percakapan.
Chat sederhana.
Lalu saling mengenal.
Belajar mempercayai seseorang yang bahkan belum pernah benar-benar hadir di hadapan mata.
Belajar menguatkan hati pada sesuatu yang belum pasti.
Pertemuan pertama mereka baru terjadi saat Idul Fitri beberapa bulan lalu. Kala itu, si lelaki datang bersama ayahnya dari Jambi ke Kampung Kiara, sekaligus menyepakati tanggal akad nikah yang pagi tadi akhirnya benar-benar berlangsung.
Di zaman ketika hubungan sering runtuh karena terlalu banyak pilihan, mereka justru memilih percaya.
Dan pagi tadi, dua orang yang lama saling menguatkan hanya lewat layar kecil telepon genggam itu akhirnya duduk berdampingan sebagai calon suami istri.
Rumah Pak Nadi, ayah mempelai perempuan, berdiri kokoh. Beton. Lebarnya sekitar enam meter, memanjang lebih dari sepuluh meter, dengan lantai penuh keramik.
Sederhana, tetapi jelas bukan keluarga yang bisa disebut miskin.
Namun di sini, ukuran kesejahteraan rupanya tak selalu dibaca dari apa yang dipamerkan.
Sebab malam sebelum akad, aku menyaksikan sesuatu yang rasanya jauh lebih mahal daripada pesta besar dengan lampu gemerlap dan organ tunggal.
Sekitar pukul sepuluh malam, rumah mulai dipenuhi para tetua kampung.
Guru.
Kyai.
Orang-orang sepuh dengan wajah teduh yang seperti menyimpan waktu panjang.
Mereka berkumpul untuk mamaca syekh, menembangkan hikayat Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam bahasa lokal yang terdengar seperti percampuran Sunda dan Jawa, mirip bahasa Cirebonan.
Suara mereka pelan.
Berulang.
Mengalun seperti doa.
Bergantian hingga dini hari.
Kisah yang dilantunkan antara lain tentang masa kecil Syekh Abdul Qadir yang ikut dalam rombongan dagang, lalu dirampok di perjalanan. Saat para begal bertanya, anak kecil itu justru jujur mengaku menyimpan dinar emas pemberian ibunya. Kejujuran itu, dalam hikayat yang dituturkan para tetua malam itu, mengguncang hati para perampok hingga mereka bertobat dan mengikuti perjalanan sang syekh menuju Baghdad untuk belajar agama.
Mamaca syekh berlangsung hingga sekitar pukul tiga dini hari. Lima jam.
Di banyak tempat orang berjaga demi musik dan pesta.
Di kampung ini, orang berjaga demi hikayat, demi agama, demi mengingat akhlak.
Belum sempat rasa kantuk benar-benar datang, rumah kembali sibuk sebelum suara tahrim terdengar dari kejauhan.
Orang mandi.
Menyapu halaman.
Memasak.
Menata tempat duduk.
Dan satu hal yang membuatku lama memperhatikan, warga kampung berdatangan membantu tanpa perlu dipanggil.
Orang tua.
Pemuda.
Remaja.
Semua bekerja seperti keluarga sendiri.
Tak terlihat wajah canggung, tak tampak batas antara “tuan rumah” dan “orang lain”.
Di sini, rasa persaudaraan seperti masih punya bentuk yang nyata.
Pagi itu, meja sederhana telah disiapkan. Termos berisi air panas, teh, kopi, dan gula tersusun seadanya. Siapa pun tinggal menyeduh sendiri sesuai selera.
Tidak mewah.
Namun terasa hangat dengan cara yang sulit dijelaskan.
Sekitar pukul delapan pagi, akad nikah dimulai.
Kedua mempelai duduk berdampingan.
Pak Nadi telah duduk berhadapan dengan mempelai lelaki. Seorang ustaz bertugas menjadi penghulu, sementara beberapa kyai dan orang dituakan di Kampung Kiara duduk ikut menyaksikan.
Lalu terdengar pertanyaan itu.
“Sah?”
“Saaaah…”
Hanya sesaat.
Tetapi suasana seperti berubah.
Mempelai lelaki yang datang jauh dari Jambi itu tak kuasa menahan air mata.
Tangisnya pecah.
Ia bersimpuh di kaki sang ayah.
Tangannya menggenggam kaki lelaki yang sejak awal membersamainya menuju perjalanan ini. Ayah yang beberapa bulan lalu ikut datang menempuh perjalanan jauh hanya untuk memastikan perempuan pilihannya memang baik, dan keluarga yang hendak disambangi adalah orang-orang yang bisa dipercaya.
Tangisnya semakin pecah ketika ia berdiri dan memeluk ibundanya.
Pelukan panjang.
Pelukan yang seperti menyimpan banyak hal: syukur, lega, rindu, dan mungkin kesadaran bahwa sejak pagi itu hidupnya tak lagi sama.
Tak semua kebahagiaan hadir dalam tawa.
Kadang ia datang sebagai air mata yang tidak bisa disembunyikan.
Seharian aku mengamati jalannya walimatul ursy itu.
Tidak ada organ tunggal.
Tidak ada panggung hiburan megah.
Hanya pengeras suara sederhana yang terhubung Bluetooth, sekadar menemani suasana sebagaimana orang karaoke di rumah.
Menu makanan pun sederhana: sayur genjer, ayam semur, ikan bandeng goreng, sup daging, dan beberapa sayur pelengkap, serta sejumlah kue tradisional, keripik pisang hingga pisang manis, tape ketan, lepat, nago sari dan kue bakar. Tetapi entah kenapa terasa nikmat.
Mungkin karena yang disajikan bukan sekadar makanan.
Ada rasa syukur di dalamnya.
Ada ketulusan yang ikut dihidangkan.
Lalu aku mulai memperhatikan sesuatu. Di dekat pelaminan tidak ada kotak amplop.
Tak ada meja penerima sumbangan. Tak ada kode QRIS. Tak ada nomor rekening.
Aku sempat heran. Sampai sore, jawabannya perlahan tampak.
Dua karung besar berisi beras dibawa masuk ke rumah.
Rupanya, para tamu yang datang ke hajatan ini kebanyakan tidak membawa amplop. Mereka membawa beras.
Satu kilogram.
Dua kilogram.
Lima kilogram.
Kadang lebih.
Beras hasil sawah sendiri.
Sebagai hadiah.
Sebagai bantuan.
Sebagai tanda ikut bergembira.
Warga di sini mayoritas petani sawah. Dan di banyak desa Kecamatan Sukaresmi, kebiasaan membawa beras ke hajatan seperti ini masih hidup.
Tentu saja, jika dihitung secara nominal, beras-beras itu tidak akan mampu menutup biaya hajatan. Tidak cukup untuk “balik modal”. Tetapi rupanya memang itu bukan tujuan.
Seorang warga berkata kepada saya, mereka tak terlalu memikirkan untung rugi ketika punya hajat. Mengundang orang adalah rasa syukur kepada Allah.
Bukan transaksi sosial.
Bukan investasi agar suatu hari kembali dalam jumlah yang sama.
Aku terdiam.
Karena tanpa sadar, kita mungkin sedang hidup di zaman ketika silaturahmi perlahan berubah menjadi perhitungan. Ketika undangan resepsi mulai mencantumkan QRIS. Ketika hadir ke pesta kadang seperti membayar kewajiban sosial.
Sementara di Kampung Kiara, undangan masih disampaikan lisan, dari mulut ke mulut, dari rumah ke rumah.
Dan orang datang membawa sesuatu yang tumbuh dari tanah sendiri.
Segenggam hasil panen.
Segenggam ketulusan.
Maka sore itu aku pulang dengan satu pertanyaan kecil yang mengganggu hati:
jangan-jangan, orang-orang yang tampak sederhana ini justru lebih kaya daripada kita—karena mereka masih mampu menjaga rasa sebagai saudara. (*)






