Peringatan Isra Mi’raj di Masjid Al Muwazzaphin
MUARA BULIAN, SUARAKALANGAN.COM – Peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah yang digelar di Masjid Al Muwazzaphin, RT 09 RW 02, Kelurahan Rengas Condong, Kecamatan Muara Bulian, Sabtu malam (17/1/2026), berlangsung khidmat dan sarat makna keagamaan.
Acara yang dilaksanakan ba’da salat Isya ini diawali dengan pembacaan Surat Al-Fatihah dan ayat suci Al-Qur’an dari Surah Al-Isra (Bani Israil) ayat 1, dilanjutkan sambutan Ketua Masjid Al Muwazzaphin, M. Sahid.
Dalam sambutannya, M. Sahid menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada seluruh panitia dan jamaah yang telah berkontribusi, baik materi, tenaga, maupun pikiran, sehingga kegiatan keagamaan tersebut dapat terlaksana dengan baik.
“Atas nama pengurus masjid dan jamaah, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia dan jamaah. Semoga keberkahan Allah SWT menyertai kita semua. Terima kasih juga kepada penceramah yang telah meluangkan waktu memberikan tausiyah,” ujar M. Sahid.
Ia menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj tidak boleh berhenti pada seremonial semata, melainkan harus menjadi momentum memakmurkan masjid melalui salat berjamaah serta meningkatkan kepedulian terhadap kondisi masjid yang masih membutuhkan perhatian bersama, termasuk melalui infaq dan sedekah.
Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Ketua RW 03, perwakilan Camat Muara Bulian, Ketua RT 13, RT 08, RT 09 dan ketua RT sekitar, tokoh masyarakat, H. Bustomi, anggota DPRD Kabupaten Batang Hari yang juga warga RW 02, serta H. Amir Hamzah, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Batang Hari.
Suasana religius semakin terasa saat pembacaan Mahalul Qiyam yang dibawakan para santri dari Pondok Pesantren Zulhijjah, Kelurahan Teratai, Muara Bulian. Seluruh jamaah berdiri mengiringi lantunan shalawat, menghadirkan suasana haru seakan Rasulullah SAW hadir di tengah-tengah jamaah.
Tausiyah: Takabur Menghalangi Cahaya Iman
Dalam tausiyahnya, Kyai Ahmad Khalid, pengasuh Pondok Pesantren Manarul Huda, Desa Kilangan, menekankan bahaya sifat takabur yang dapat menghancurkan amal ibadah seseorang. Ia mencontohkan kisah Iblis yang diusir dari surga bukan karena banyaknya dosa, melainkan karena satu sifat, yakni kesombongan.
Ia juga mengisahkan hikmah dari ulama besar tasawuf, Syaikh Imam Abu Yazid Al-Bustami, yang ditegur melalui perantara seekor anjing agar tidak merasa lebih mulia dari makhluk Allah lainnya. Menurutnya, kesombongan sekecil apa pun tidak akan pernah bisa dibersihkan dari hati jika sudah bersemayam di dalamnya.
“Merasa lebih mulia, lebih hebat, bahkan terhadap makhluk Allah yang lain saja itu berbahaya, apalagi terhadap sesama manusia,” ungkapnya.
Shalat dan Majelis Ilmu sebagai Jalan Keselamatan
Kyai Ahmad Khalid menegaskan bahwa shalat yang benar dan dihayati akan melahirkan kekuatan iman, sebagaimana firman Allah “Innash-shalata tanhaa ‘anil fahsyaa’i wal munkar”, yang mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Ia juga menyampaikan bahwa taman-taman surga adalah majelis-majelis ilmu dan zikir. Orang-orang beriman kelak akan masuk surga secara berkelompok karena di dunia mereka istiqamah duduk bersama para ulama, mengikuti majelis ilmu dan menjaga shalat berjamaah di masjid.
Sebaliknya, ia mengingatkan akan datangnya suatu zaman ketika manusia menjauh dari ulama dan majelis ilmu kalah oleh hiruk pikuk dunia. Dampaknya, keberkahan rezeki diangkat, kekuasaan dipegang oleh orang-orang zalim, dan yang paling ditakutkan, manusia meninggal dunia tanpa membawa iman.
Peringatan Isra Mi’raj tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh ustadz H Bustomi, dengan harapan seluruh jamaah dapat mengambil hikmah dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menjaga shalat, memperkuat ukhuwah, dan memakmurkan masjid. (eso)






