Hari yang Tak Akan Dilupakan: PPPK Batang Hari Resmi Diangkat, Tumpuan Pelayanan Publik Kini di Tangan Mereka”
“Kalau PPPK-nya baik, maka pelayanan masyarakat pun akan baik,” pesan Bupati Batang Hari menggaung di tengah barisan pegawai yang baru saja dilantik. Sebuah amanat sederhana, namun penuh beban tanggung jawab.
Laporan Wartawan Suarakalangan.com, Eso Pamenan M
Di bawah langit Batang Hari yang teduh, di kawasan Aek Meliuk — tepat di samping rumah dinas Bupati — ratusan pegawai berpakaian coklat rapi berdiri berbaris. Di tangan mereka balon-balon warna-warni menggantung ringan, seolah melambangkan harapan baru yang siap terbang tinggi. Senin pagi (14/7/2025) itu menjadi salah satu momen paling emosional dalam perjalanan mereka sebagai abdi negara: pengukuhan dan pengambilan sumpah janji Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahap pertama di lingkungan Pemerintah Kabupaten Batang Hari tahun anggaran 2024.
Suara gemuruh air mancur di latar belakang seolah ikut merayakan, ketika Bupati Batang Hari, Muhammad Fadhil Arief, berdiri di podium. Dengan suara mantap ia mengingatkan bahwa mulai Januari 2026 nanti, tumpuan pelayanan publik di Batang Hari berada di tangan PPPK. Jumlah mereka bahkan telah melampaui jumlah PNS. “Kalau kalian baik, pelayanan masyarakat kita akan baik. Kalau kalian bekerja dengan hati, kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat,” pesannya, membuat banyak mata peserta memerah, bahkan sembunyi-sembunyi menyeka sudut mata.
✅ “Kita jadi pegawai bukan berarti berhenti belajar. Jangan mudah terhasut, jangan mudah menyebar fitnah. SDM yang baik akan memfilter apa yang dia lihat, dengar, dan pikirkan.”
Bagi banyak dari mereka, hari ini bukan sekadar formalitas. Ada yang sudah menanti bertahun-tahun, melewati ujian berulang, dan berjuang di tengah ketidakpastian. Di antara mereka ada yang datang dengan anak kecil digandeng, ada pula yang datang sendirian, namun dengan senyum lega yang tak bisa disembunyikan. Balon-balon yang dilepaskan setelah upacara bukan hanya simbol seremonial, tetapi juga seperti beban yang kini terangkat dari pundak mereka.
Bupati juga menyampaikan pesan yang penuh makna tentang posisi dan martabat seorang pegawai. Ia berpesan agar para PPPK tidak meninggalkan posisinya dan tidak ingin mengambil peran orang lain. “Kalau kita ditempatkan sebagai kiper, jangan maju ke depan, karena kita bukan striker. Kalau kita meninggalkan posisi kita, maka rusaklah sistem. Tugas kita adalah di posisi kita masing-masing,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan untuk tetap rendah hati, terus belajar, dan tidak mudah terhasut oleh hoaks dan fitnah. “Kita jadi pegawai bukan berarti berhenti belajar. Kalau mudah terhasut dan menyebar fitnah, itu tanda SDM rendah. Orang yang baik akan memfilter apa yang dia dengar, lihat, dan pikirkan,” ujarnya sambil memberi contoh perumpamaan-perumpamaan sederhana namun mengena.
✅ “Bayangkan diri kalian sebagai orang yang dilayani. Kalau kalian di rumah sakit, jadi pasien. Kalau di sekolah, jadi murid. Kalau di kantor pajak, jadi warga yang ditagih. Dari situ kita belajar empati.”
Dalam bagian lain pidatonya, Bupati juga mengingatkan tentang pentingnya melayani dengan empati. Ia meminta pegawai membayangkan diri mereka sebagai orang yang mereka layani. “Kalau kalian bekerja di rumah sakit, bayangkan kalau kalian adalah pasien yang tidak disentuh. Kalau di sekolah, bayangkan kalau kalian jadi murid yang tak diajari. Kalau jadi petugas pajak, bayangkan jadi warga yang ditagih. Kalau sudah begitu, baru kita bisa melayani dengan baik,” katanya.
Bupati juga mengingatkan untuk menjaga diri dan keluarga, tidak menyia-nyiakan penghasilan yang sudah jelas, dan tidak tergoda pinjaman online, narkoba, atau judi online. “Hanya orang yang SDM-nya rendah yang mau menghancurkan dirinya dengan itu semua,” tegasnya.
✅ “Tidak ada kebahagiaan seorang pamong selain menyelesaikan masalah masyarakat. Itulah kebanggaan kita.”
Barisan pegawai yang semula kaku kini mulai cair ketika prosesi pengalungan tanda pengukuhan selesai. Beberapa di antaranya saling berpelukan, ada yang berfoto dengan balon warna-warni di tangan, dan banyak yang menunduk penuh syukur, mungkin dalam hati membisikkan doa untuk keluarga yang selalu mendukung mereka.
Di ujung acara, semua pegawai menyanyikan lagu Bagimu Negeri dengan penuh perasaan. Suara mereka bersatu, keras, dan bergetar, seolah menyadari bahwa hari itu mereka tidak hanya diangkat sebagai pegawai, tetapi juga sebagai harapan baru bagi Batang Hari.
Di Aek Meliuk, di samping rumah dinas bupati, sejarah kecil tapi penuh makna tercatat hari itu: sebuah janji yang diucapkan, sebuah tanggung jawab yang diterima, dan sebuah harapan yang mulai terbang tinggi bersama balon-balon warna-warni. (*)











