Seni Memimpin Tanpa Melukai

Tukang Potong Karet dan Etika Kepemimpinan Kampus

 

Di hadapan yayasan dan pimpinan kampus, Rektor Universitas Islam Batang Hari, Dr. Ansori, tidak berbicara panjang tentang jabatan. Ia memilih bahasa yang sederhana dan membumi: kepemimpinan ibarat kerja tukang potong karet.

Dalam metafora itu, kepemimpinan bukan soal kekuasaan, melainkan soal ketepatan. Tukang potong karet tidak boleh serampangan. Terlalu dalam, pohon rusak. Terlalu ragu, hasil tidak diperoleh.

Bagi Dr. Ansori, kepemimpinan kampus juga demikian. Rektor bekerja berdasarkan mandat yayasan, dan mandat selalu datang bersama tanggung jawab serta evaluasi. Evaluasi bukan ancaman, melainkan bagian dari ikhtiar menjaga agar institusi tetap sehat.
Refleksi tersebut menempatkan kepemimpinan kampus sebagai ruang pengabdian yang menuntut kehati-hatian, kerendahan hati, dan kesiapan untuk dinilai.

BACA JUGA  Melindungi Guru, Menyelamatkan Sekolah: Arah Baru Pendidikan Pasca Permendikdasmen Nomor 4 Tahun 2026

Kampus tidak selalu tumbuh dalam sorak-sorai. Ia sering bertahan dalam sunyi, di antara keputusan-keputusan yang tidak populer namun harus diambil.
Dalam sunyi itulah, Rektor Unisba, Dr. Ansori, menggambarkan kepemimpinan sebagai kerja tukang potong karet. Setiap goresan harus terukur, karena kesalahan kecil dapat berdampak panjang.
Metafora tersebut menyimpan pesan bahwa jabatan adalah amanah, bukan hak milik.

Mandat yang diberikan yayasan bukan untuk dipertahankan dengan cara apa pun, melainkan dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan kesiapan untuk dievaluasi.

Kampus yang sehat bukan kampus tanpa koreksi, melainkan kampus yang pemimpinnya siap dikoreksi demi keberlanjutan pendidikan.

Analogi tukang potong karet yang disampaikan Rektor Unisba menghadirkan refleksi penting tentang etika kepemimpinan kampus. Jabatan bukanlah simbol kekuasaan, melainkan amanah yang selalu berada dalam ruang penilaian.

BACA JUGA  Buka MPLS, Kepala SMAN 10: Sekolah Bagus Tak Cukup, Usaha Kalian yang Menentukan!

Dalam tata kelola perguruan tinggi, yayasan berperan sebagai penjaga arah, sementara rektorat menjalankan mandat akademik. Relasi ini menuntut keseimbangan, bukan dominasi.
Evaluasi bukanlah bentuk ketidakpercayaan, melainkan mekanisme menjaga agar pohon pendidikan tetap hidup dan berbuah.

Kampus yang dewasa adalah kampus yang memahami bahwa kepemimpinan bukan soal bertahan di kursi, melainkan soal menjaga martabat dan masa depan institusi. (eso pamenan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PAGE TOP