Teriakan itu tak berhenti sejak babak pertama.
“Bunndaaa… hebat!”
“Kereeen!”
“Idolakuuu!”
GOR Basket Muara Bulian sore itu dipenuhi suara anak-anak. Mereka berdiri di tepi lapangan, sebagian memeluk ponsel, sebagian lagi bertepuk tangan tanpa henti. Pertandingan eksebisi Basketball Competition 2025 bukan lagi sekadar selingan acara. Ia berubah menjadi ruang kegembiraan kolektif.
Di lapangan, Bunda Zulva Fadhil, mengenakan jersey putih bernomor punggung 7, kembali mengambil posisi. Babak pertama sudah dilewati dengan 6 poin untuk tim putih. Anak-anak masih bersorak, seolah tak sabar menunggu apa yang akan terjadi berikutnya.
Babak kedua dimulai.
Bola berpindah cepat. Sorak penonton naik turun mengikuti irama permainan. Setiap sentuhan bola dari Bunda Zulva Fadhil selalu disambut teriakan kecil yang penuh harap. Lalu—duk!—bola kembali bersarang di ring. Masuk.
GOR kembali pecah.
Belum reda tepuk tangan, poin demi poin kembali tercipta. Enam poin lagi mengalir di babak kedua. Anak-anak melompat, menunjuk ke lapangan, saling berseru sambil tertawa.
“Masuk lagi!”
“Bunda jago!”
Hingga peluit panjang berbunyi, papan skor menunjukkan angka yang membuat senyum merekah di mana-mana: 12–2 untuk kemenangan tim putih.
Angka itu bukan sekadar hasil pertandingan. Bagi anak-anak yang memadati GOR, itu adalah kenangan. Bahwa mereka menyaksikan langsung pemimpinnya bermain, berkeringat, dan menang bersama timnya.
Begitu pertandingan usai, lapangan seketika berubah menjadi lautan manusia kecil. Anak-anak berlarian turun, berebut mendekat. Ada yang ingin foto, ada yang ingin swafoto, ada pula yang hanya ingin berkata dengan suara lantang dan polos:
“Bunda hebat… keren… idolakuuu!”
Bupati Batang Hari Fadhil Arief dan Bunda Zulva Fadhil melayani mereka satu per satu, tanpa jarak, tanpa canggung. Kilatan kamera ponsel menyala, tawa pecah di mana-mana.
Sore itu, GOR Muara Bulian bukan hanya mencatat skor 12–2. Ia mencatat sesuatu yang jauh lebih penting: mimpi anak-anak yang tumbuh, semangat yang menyala, dan keyakinan bahwa olahraga bisa mendekatkan siapa saja—tanpa sekat jabatan.
Dan kelak, ketika anak-anak itu mengingat hari ini, mereka mungkin lupa angka di papan skor. Tapi mereka tak akan lupa satu hal:
hari ketika “Bunda” bermain basket, menang, dan membuat mereka percaya bahwa mimpi itu nyata. (eso pamenan)








